Perasaan
Pagi ini, setelah melakukan berbagai kewajiban saya sebagai Hamba Allah, saya menyempatkan diri membaca buku Arsitek Peradaban yang ditulis Ustadz Anis Matta. Tulisan-tulisannya sangat berbobot, dengan untaian kata yang puitis dan penuh makna. Ditambah dengan sejumlah shiroh dan tarikh Islam yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya.
Mata saya akhirnya tertuju pada tulisan dengan judul Perasaan. Setelah dibaca dengan perlahan, akhirnya muncul ide untuk menuliskan kembali di dinding blog saya. Ya… mudah-mudahan saja ada manfaatnya bagi yang sempet mampir di blog ini.
Perasaan adalah penghuni rumah hati kita. Tabiat kepenghuniannya seperti tabiat kepribadian kita. Kadang ia menjadi penghuni yang baik. Di lain waktu ia menjadi penghuni yang nakal. Kadang ia bergemuruh bagai gelombang. Kadang ia melambai-lambai bagai riak-riak kecil.
“Jangan sekali-kali meremehkan perasaan,” Kata Syekh Ali At-Thanthawi. “Sebab, manusia menjadi manusia dengan perasaannya. Ia adalah tempat persinggahan dua hal yang tersuci di dunia ini : iman dan cinta.”
Di tengah hiruk pikuk modernisasi, ketika rasionalisme membunuh bayi-bayi romantika yang lahir dari rahim fitrah kita, ketika hukum-hukum positif membungkam semua celah dari mana suara nurani bisa terdengar, terkadang kita menjadi bisu, dan bertanya-tanya dalam keraguan; masih adakah tempat bagi perasaan di dunia kita? Bahkan terkadang kita merasa begitu cengeng untuk menanyakan ini kepada penguasa rasionalitas kita?
Tapi, ketika saya membaca ungkapan Syekh Ali At-Thanthowi tadi yang ditulisnya 40 an, saya tiba-tiba mendapat keberanian kembali. Yang membuat kata-kata Sayyid Quthb dalam FiZhilaalil Quran begitu kuat menghentak akal batin kita, dan menghidupkan kembali semangat pengembaraan nurani kita menuju tepian pantai, dimana janji-janji Allah menanti kita? Apakah yang membuat khotbah-khotbah Ibnul Jauzi mampu melunakkan batu hati itu, yang sebelumnya tak pernah meyakini kalau manusia itu mempunyai air mata dan bisa menangis?
Pikiran itu adalah benda gaib yang dimaterikan oleh kata. Tapi materi kata adalah raga tanpa nafas kehidupan. Berceritalah kepadaku tentang Tuhan dengan materi kata rasionalisme barat dan logika Yunani . Saya mungkin akan percaya pada keberadaan Tuhan. Tapi, jangan harap saya akan merendahkan diri untuk bersujud pada-Nya. Bukankah itu yang terjadi pada dunia manusia kini?
Kini, kita perlu membawa anak-anak pikiran kita pada taman perasaan kita. Biarkan ia bermain di sana. Biarkan ia tumbuh dan besar di sana. Karena hanya disana ia bisa menjadikan gagasan-gagasan kita sebagai kenyataan. Biarkan ia mengalir dalam deras arusnya, hingga engkau tak dapat membedakansalah satu dari keduanya. Saat ia kembali, engkau niscaya akan menemukan materi katamu telah bergerak dengan nafas kehendak yang tak terbendung. Engkau akan menemukan sebuah ‘logika’ baru yang tercipta dari tali kecapi nurani. Logika nurani. Engkau dapat memetik tali kecapi itu setiap saat. Dan setiap saat engkau akan mendengarkan gema suara yang menggetarkan wujud memabukkan jiwa, menyihir akal, menguburkan mata, sama seperti engkau meniupkan nafas cinta pada Kuncup yang mekar jadi bunga. Biarkan …..