Aku Ingin ….

11 July 2009 by amasykur

hatiAku cinta kamu !
Berapa kali temen-temen mengucapkan kalimat itu kepada Istri dalam sehari? Saya jelas tidak bisa menebaknya. Tapi beberapa suami atau istri mungkin bertanya: perlukan itu diucapkan setiap hari? Apa yang mungkin ‘dilakukan’ kalimat itu, dalam hati seorang istri, bila itu diucapkan seorang suami, pada saat anaknya sudah tiga? Ada juga ungkapan seperti ini; kalimat itu hanya dibutuhkan oleh mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada sebelum atau pada awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah memasuki tahun ketujuh, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita sudah tua membuat kita tidak membutuhkan lagi.

Bahwa setiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap dirinya. Kita mungkin bisa menangkap itu dari sorotan mata, gerak tubuh dan perlakuan umum, tetapi detail perasaan itu tetap tidak tertangkap selama tidak diungkapkan secara verbal.

Dari bab inilah ungkapan verbal berupa kata menemukan makna. Bahkan sesungguhnya ada begitu banyak kekurangan dalam perbuatan yang ‘beban psikologisnya’ dapat terkurangi dengan kata. Ketika kita menolak seorang pengemis karena tidak memiliki sesuatu yang dapat kita sedekahkan, itu tentu sakit bagi pengemis itu. Tapi Allah menyuruh kita ‘mengurangi’ beban sakit itu dengan kata yang baik. Bukankah”perkataan yang baik lebih baik dari sedekah yang disertai cacian?”.

Selanjutnya, perhatikan riwayat berikut ini : Suatu ketika seorang sahabat duduk bersama Rasulullah saw. Kemudian seorang sahabat yang lain berlalu didepan mereka. Sahabat yang duduk bersama Rasulullah saw. itu berkata kepada Rasulullah saw.

“Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang itu.”

“Sudahkah engkau menyatakan cintamu padanya?” tanya Rasulullah saw.

“Belum, ya Rasulullah.” Kata sahabat tiu.

“Pergilah menemui orang itu dan katakan bahwa kamu mencintainya,” kata Rasulullah saw.

Jika kepada sesama sahabat atau ikhwah rasa cinta harus diungkapkan secara verbal, dapatkah kita bayangkan, seperti apakah verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada istri kita? Apakah makhluk satu itu, yang mendampingi kita lebih banyak dalam saat-saat lelah dan susah dibanding saat-saat suka dan ‘lapang’, tidak lebih berhak untuk mendengarkan ungkapan rasa cinta itu?

Kita mungkin sering melihat betapa lelahnya istri kita menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mulai memasak, mencuci sampai menjaga dan merawat anak. Kerja berat ini seringkali tidak disertai dengan sarana teknologi yang mungkin dapat memudahkannya. Setan apakah yang telah meyakinkan kita begitu rupa bahwa makhluk mulia yang bernama istri saya atau istri Anda tidak butuh ungkapan “I Love You” ? karena ia seorang daiyah, atau karena ia seorang mujahidah atau karena kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara ‘anak-anak muda’ menyatakan cinta? Setan apakan yang membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun hanya ungkapan kata? Setan apakah yang telah membuat kita begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hari kita yang sesungguhnya dan menyatakannya secara sederhana dan tanpa beban?

Tapi mungkin juga ada situasi begini, Kita mencintai istri

Comments are closed.

Sekilas Berita